Modric-Rakitic,Ancaman Untuk Inggris

Modric-Rakitic,Ancaman Untuk Inggris

Luka Modric dan Ivan Rakitic menjadi dua dinamo penggerak Timnas Kroasia di Piala Dunia 2018. Keduanya bakal menjadi ancaman buat Inggris di semifinal.

Duel Kroasia vs Inggris akan tersaji di Luzhniki Stadium, Moskow, Kamis (12/7/2018) dini hari WIB, dalam babak semifinal Piala Dunia 2018. The Three Lions ditantang The Blazers yang sejauh ini tampil galak di Rusia.

Penampilan apik Kroasia di Piala Dunia 2018 tak lepas dari kontribusi besar Modric dan Rakitic, dua gelandang yang menjadi motor penggerak permainan tim besutan Zlatko Dalic.

Rakitic di Piala Dunia 2018 tercatat sudah melepaskan 279 umpan dengan 239 di antaranya sukses, menciptakan 12 attempt, dan mencetak satu gol. Sementara Modric sudah melepaskan 367 passing, 304 di antaranya sukses, membuat 10 attempt, dan menciptakan dua gol dan satu assist.

Rajinnya Rakitic dan Modric di lini tengah membuat serangan Kroasia tetap mengalir. Meski tak punya penyerang seproduktif Harry Kane, Kroasia terbukti tetap mengerikan; menjadi tim ketiga dengan percobaan mencetak gol terbanyak setelah Brasil dan Belgia.

Eric Dier, gelandang Inggris, secara terang-terangan berharap timnya bisa meredam Rakitic dan Modric di Moskow nanti. Kedua pemain berkelas dunia itu menjadi perhatiannya.

INFO PREDIKSI SKOR SEPUTAR PIALA DUNIA 2018

KLIK GAMBAR

“Mereka adalah dua pemain fantastis, pemain kelas dunia di posisinya. Mereka bermain di level yang amat tinggi bersama klubnya,” ungkap Dier dilansir Sportskeeda.

“Rakitic saya belum menghadapinya, tapi saya menghadapi Modric dua kali tahun ini di Liga Champions dan semua tahu apa yang dia lakukan saat masih di Premier League,”

“Dia pemain luar biasa yang bisa menciptakan momen ajaib dan saya pikir dia adalah salah satu penampil yang luar biasa di Piala Dunia sejauh ini. Mereka berdua adalah pemain hebat, semua tahu itu. Tapi mudah-mudahan kami bisa melakukan pekerjaan kami sebagai tim dan individu untuk mengatasi mereka Rabu nanti,”

Buffon ke PSG Bukan karena Terobsesi Liga Champions

Buffon ke PSG Bukan karena Terobsesi Liga Champions

Gelar yang belum dimenangi Gianluigi Buffon cuma trofi Liga Champions. Namun bukan hal itu pula yang membuatnya kini berseragam Paris Saint-Germain.

Sepanjang kariernya, baik berseragam Parma dan Juventus, Buffon sudah merebut puluhan gelar sebagai pemain. Mulai dari scudetto, Coppa Italia, Piala UEFA, hingga Piala Super Italia.

Di level timnas juga sama, di mana ia membawa Italia juara Piala Dunia 2006. Satu-satunya gelar yang belum pernah diraih adalah Liga Champions, dengan tiga kali gagal di final bersama Juventus (2003, 2015, dan 2017).

Kini, Buffon meninggalkan Juventus dan pindah ke PSG. Les Parisiens punya obsesi yang sama dengan sang kiper dalam beberapa musim terakhir, yakni meraih trofi Si Kuping Besar.

Buffon menyatakan dirinya pindah ke PSG bukan semata mengejar trofi Liga Champions. Kiper berusia 40 tahun itu menegaskan dirinya tak terobsesi dengan hal tersebut.

“Liga Champions? Saya datang ke klub yang ambisius, di mana semua orang ingin menang. Saya akan melakukan yang terbaik untuk membantu tim meraih prestasi terbaik yang bisa dicapai, tapi Liga Champions tidak akan menjadi obsesi,” jelasnya dikutip Football-Italia.

Buffon sendiri tengah dihukum larangan bermain tiga laga di kompetisi Eropa karena memprotes keras wasit saat Juventus disingkirkan Real Madrid di perempatfinal Liga Champions musim lalu.

“Larangan tiga pertandingan? Klub membuat penilaian yang tepat dan keputusan saya datang ke sini tentu saja tidak tergantung pada durasi larangan, yang akan saya hormati tanpa masalah dan kontroversi,” jelas Buffon.

Selain Acak-acak Ikea, Hooligan Inggris Rusak Ambulans dan Taksi

Selain Acak-acak Ikea, Hooligan Inggris Rusak Ambulans dan Taksi

Keberhasilan Inggris masuk semifinal Piala Dunia 2018 disambut euforia besar di seluruh negeri. Sayangnya ada sekelompok fans yang melakukan aksi perusakan.

Pesta besar digelar pendukung Inggris usai Harry Kane dkk meraih kemenangan 2-0 atas Swedia di Piala Dunia 2018. Untuk kali pertama dalam 28 tahun, The Three Lions masuk semifinal Piala Dunia.

Di seluruh pelosok negeri, pesta kemenangan digelar dengan serentak. Beberapa di antaranya sampai berujung aksi perusakan.

Dilaporkan BBC, puluhan suporter melakukan pesta kemenangan di salah satu gerai Ikea. Mereka melompat-lompat di atas sofa dan kasur yang dijadikan display. Berbagai barang yang berada di toko perabotan asal Swedia itupun menjadi berantakan.

Di London, suporter yang berpesta turun ke jalan juga menyebabkan beberapa kekacauan. Selain menyebabkan macet, ada juga suporter yang menghentikan ambulans dan taksi yang melintas lalu menari dan bernyanyi di atasnya.

INFO PREDIKSI SKOR SEPUTAR PIALA DUNIA 2018

KLIK GAMBAR

Sementara di Birmingham beberapa suporter nekat memanjan bus tingkat. Kejadian ini membuat kepolisian Inggris bekerja keras mengamankan situasi dan menjaga ketertiban.

Masih dilaporkan oleh BBC, jumlah polisi K-9 yang diturunkan untuk menjaga ketertiban malah lebih banyak dibanding saat malam tahun baru. Tapi bahkan anjing-anjing milik kepolisian jadi sasaran teriakan suporter Inggris lantaran mereka berasal dari Jerman.

MBAPPE SUDAH SAMA DENGAN MESSI

MBAPPE SUDAH SAMA DENGAN MESSI

iyapoker

Tidak ada pemain remaja yang meroket namanya dan punya kemampuan teknis seperti Kylian Mabppe, kecuali Lionel Messi.

Demikian sanjungan yang diberikan Nacer Chadli jelang pertemuan Prancis dengan Belgia di babak semifinal Piala Dunia 2018. Dengan kecepatan dan aksi-aksinya, Mbappe jadi bintang dan pahlawan Les Bleus di pertandingan fase grup sampai 16 dan 8 besar.

Tampil di hadapan wartawan pada sesi konferensi pers, Chadli menyebut ada kesamaan antara Mbappe dengan Lionel Messi saat masih muda dulu.

“Apa yang Mbappe lakukan di usianya sekarang, saya tak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Kecuali, mungkin, Messi,” ucap Chadli.

“Mbappe sulit dihentikan — di cepat, punya banyak kualitas dan dia punya kemampuan teknik,” lanjut winger Belgia itu.

Mbappe selalu bermain di seluruh pertandingan Prancis pada Piala Dunia 2018 ini. Dari 354 menit berada di atas lapangan, remaja 19 tahun itu berhasil melesakkan tiga gol.

INFO PREDIKSI SKOR SEPUTAR PIALA DUNIA 2018

KLIK GAMBAR

“Selalu istimewa menghadapi Prancis. Setelah Anda mengalahkan Brasil, Anda tidak boleh takut pada tim manapun. Kami bermain untuk memenangi Piala Dunia.”

“Kami menghormati semua oarng, tapi jika kami bermain dengan rasa takut maka kami tidak akan bisa mengalahkan Prancis. Laga dengan Prancis merupakan yang paling penting dalam hidup kami,” tegas Chadli.

Bukan Laga yang Indah untuk Kroasia

Bukan Laga yang Indah untuk Kroasia

Kroasia melaju ke semifinal Piala Dunia 2018 setelah menyingkirkan Rusia lewat adu penalti. Ini bukan laga yang indah untuk Kroasia.

Pertemuan antara Kroasia melawan Rusia di Fisht Stadium, Sochi, Minggu (8/7/2018) dinihari WIB, berjalan sengit. Kedua tim saling bergantian unggul sebelum lanjut adu tos-tosan.

Rusia lebih dulu memimpin lewat gol Denis Cheryshev di menit ke-31, tapi Kroasia membalasnya lewat Andrej Kramaric di menit ke-39. Skor 1-1 pun bertahan hingga 90 menit.

Pertandingan harus berlanjut ke babak tambahan 2x 15 menit. Vatreni berbalik unggul 2-1 di menit ke-101 lewat Domagoj Vida sebelum akhirnya Rusia menyamakannya menjadi 2-2 lewat Mario Fernandes di menit ke-115.

Belum juga ada pemenang setelah babak tambahan tuntas. Laga pun harus ditentukan dengan adu penalti. Kroasia menuntaskan dengan kemenangan 4-3.

INFO PREDIKSI BOLA SEPUTAR PIALA DUNIA 2018

Mateo Kovacic menjadi satu-satunya algojo Kroasia yang gagal. Di kubu Rusia, Fedor Smolov dan Mario Fernandes menjadi algojo yang gagal.

Meski kedua tim saling bergantian unggul, pelatih Kroasia, Zlatko Dalic, menganggap ini bukanlah laga yang indah untuk timnya. Ini bak sebuah pertempuran untuk Kroasia karena juga harus berjuang melawan puluhan ribu suporter tuan rumah.

“Selamat untuk para pemainku, tetapi juga untuk tim Rusia, yang berjuang dengan baik. Ini bukan pertandingan yang indah, itu sebuah pertarungan, pertarungan untuk semifinal. Kami beruntung,” kata Dalic seperti dikutip dari situs resmi FIFA.

“Aku konsentrasi di sepanjang pertandingan, tetapi setelah penalti Rakitic, emosiku keluar. Aku merasa sangat lega. Kami bahagia, Kami juga bikin semua orang di Kroasia pulang dengan rasa bahagia.

Dalic tidak langsung berlari ke dalam lapangan setelah Rakitic sukses mengeksekusi penalti yang menentukan ke menangan Kroasia. Pelatih 51 tahun itu memilih duduk di bench dan sempat tertangkap kamera menangis dengan dipeluk salah satu staf pelatihnya.

“Itu hanya Emosi ledakan emosiku. Aku tidak sering menangis, tetapi sekarang aku punya alasan yang bagus: Kroasia berada di semifinal, itu adalah kesuksesan besar dan hasil yang luar biasa,” Dalic menegaskan.

Ini menjadi kemenangan pertama Kroasia atas tim tuan rumah Piala Dunia. Sebelumnya, Kroasia kalah dengan Prancis pada 1998 dan Brasil di tahun 2014.