Bagi Bale, Trofi bersama Wales Lebih Spesial daripada Gelar di Klub

Bagi Bale, Trofi bersama Wales Lebih Spesial daripada Gelar di Klub

Gareth Bale sangat ingin memenangi trofi bersama timnas Wales. Kesuksesan bersama Wales bakal terasa amat spesial untuk Bale.

Bale merasakan kesuksesan besar selama memperkuat Real Madrid. Bersama Los Blancos, ia sudah memenangi 10 trofi termasuk tiga gelar Liga Champions dan satu titel La Liga.

Namun Bale belum mampu membawa Wales berjaya. Itulah yang menjadi impian pesepakbola berusia 28 tahun itu.

Bale kini berpeluang mengantar Wales meraih trofi kendati bukan di turnamen besar. Wales akan berlaga di final China Cup melawan Uruguay, Senin (26/3).

“Meraih trofi selalu bagus. Tapi bersama negara Anda, itu sedikit lebih spesial, Anda memilikinya dalam darah dan hati,”

“Anda ingin membuat seluruh negeri bangga, jadi apakah itu turnamen seperti yang kami ikuti sekarang ini, atau Piala Eropa atau Piala Dunia, mememangi trofi itu selalu penting.”

“Meraih trofi akan ada di peringkat atas. Akan luar biasa jika bisa meraih kesuksesan bersama Wales dan kami akan mencoba menikmatinya sebaik mungkin,” ia menyatakan.

‘Tuchel Sedang Berhubungan dengan Arsenal’

‘Tuchel Sedang Berhubungan dengan Arsenal’

Thomas Tuchel adalah kandidat serius pelatih Bayern Munich untuk musim depan. Menurut Lothar Matthaeus, Tuchel saat ini sedang berbicara dengan Arsenal.

Tuchel saat ini masih menganggur setelah meninggalkan Borussia Dortmund pada tahun lalu. Namun, baru-baru ini pelatih berusia 44 tahun itu dilaporkan telah menolak tawaran untuk menggantikan Jupp Heynckes, yang ingin pensiun di akhir musim.

Pemain legendaris Bayern Matthaeus menilai Tuchel bisa saja berlabuh ke Inggris. Manajer Arsenal Arsene Wenger terus didesak untuk mundur usai timnya lagi-lagi gagal bersaing di Premier League.

“Anda tahu, saya juga seorang jurnalis, kami harus membuat berita utama setiap hari,”

“Saya pikir Thomas Tuchel bisa menjadi favorit, si pelatih dari Borussia Dortmund, tapi saya tahu dia dalam kontak dengan Arsenal dan tidak ada yang tahu apa yang terjadi.”

Menggantikan Juergen Klopp, Tuchel mengembalikan Dortmund ke papan atas Bundesliga dengan finis runner-up di 2015/16 setelah finis ketujuh di musim sebelumnya. Pada 2016/17, Tuchel mengantar Dortmund menjuarai DFB Pokal pertama dalam lima musim sebelum hengkang karena hubungan yang buruk dengan klub.

Kalahkan Pistons Lewat OT, Rockets Samai Rekor Musim Terbaiknya

Kalahkan Pistons Lewat OT, Rockets Samai Rekor Musim Terbaiknya

Houston Rockets terus melesat di musim reguler ini. Kemenangan terbaru yang diraih atas Detroit Pistons mengantar mereka menyamai rekor mereka sendiri.

Pada pertandingan yang dihelat Toyota Center, Jumat (23/3/2018) itu, Rockets berhasil menang 100-96 melalui overtime. Ini adalah kemenangan ke-58 Rockets sepanjang musim.

Angka tersebut menyamai jumlah kemenangan terbanyak mereka di satu musim reguler yang mereka buat pada 1993-1994 saat menjadi juara NBA, saat itu Rockets mengakhiri kompetisi dengan rekor 58-24. Rekor tersebut sangat mungkin mereka patahkan di periode ini karena masih ada 10 laga lagi sebelum playoff.

Rockets sudah dipastikan akan menjadi pemimpin klasemen wilayah barat dengan rekor luar biasa tersebut. Rekor mereka sekarang adalah 58-14.

Kolektivitas Rockets benar-benar terlihat pada laga ini. James Harden memang tampil luar biasa dengan 21 poin, 8 rebound, dan 5 assist, tapi ada pemain lain yang juga tampil luar biasa.

Eric Gordon membuat capaian poin lebih tinggi dari Harden dengan 22 poin. Sementara Clint Capela mencatat double-double yaitu 10 poin dan 14 rebound. Itu belum termasuk PJ Tucker dan Joe Johnson yang juga membuat double digit poin.

Pistons sebenarnya tak bermain buruk dan duo Big Man mereka, Blake Griffin dan Andre Drummond, tampil impresif. Griffin membuat triple-double dengan 21 poin, 10 rebound, dan 10 assis, sementara Drummond 17 poin dan 20 rebound.

Tapi itu tak cukup menahan laju Rockets yang memang sedang sangat meroket dengan tujuh kemenangan beruntun sejauh ini.

Berharap Messi Main Saat Argentina Hadapi Spanyol

Berharap Messi Main Saat Argentina Hadapi Spanyol

Lionel Messi absen saat Argentina mengalahkan Italia 2-0 di laga uji coba. Pemain Real Madrid, Lucas Vazquez, ingin Messi main saat berhadapan dengan Spanyol.

Messi masuk skuat Argentina untuk laga persahabatan kontra Italia dan Spanyol di jeda internasional ini. Bintang Barcelona itu juga sudah ikut berlatih normal beberapa hari jelang pertandingan melawan Gli Azzurri.

Namun, faktanya tak ada nama Messi di daftar susunan pemain melawan Italia yang sudah berlangsung pada di Etihad Stadium, Sabtu (24/3/2018). Dia diketahui mengalami masalah di hamstringnya.

Pelatih Argentina, Jorge Sampaoli, pun berharap Messi bisa pulih dan main sebagai starter saat menghadapi Spanyol di Wanda Metropolitano pada Rabu (28/3/2018) dinihari WIB. Sejauh ini, belum ada perkembangan lebih lanjut terkait kondisi Messi.

Pemain Real Madrid, Vazquez, yang masuk dalam skuat Spanyol untuk melawan Argentina, berharap bisa bertanding dengan Tim Tango yang diperkuat Messi.

“Argentina punya pemain-pemain hebat … Sepertinya Messi akan diragukan sampai detik terakhir. Kami selalu ingin bermain melawan pemain terbaik; jadi jika Messi bermain, maka lebih baik lagi,”

Sementara itu, Saul Niguez menambahkan bahwa Argentina masih tetap berbahaya meski tak diperkuat Messi. Rekan satu tim Saul di Atletico Madrid, Angel Correa, juga bisa membuat perbedaan di tim Sampaoli.

“Argentina memiliki tim yang hebat. Jika Messi tidak ada, Correa akan ada di sana, dan dia bisa (membuat perbedaan) kapan saja,”

Deulofeu Gagal di Barca karena Kesalahan Sendiri

Deulofeu Gagal di Barca karena Kesalahan Sendiri

Gerard Deulofeu gagal bersaing di Barcelona dan harus dipinjamkan ke Watford. Deulofeu mengakui gagal bersaing karena kesalahannya sendiri.

Deulofeu sempat menjadi bagian tim senior Barca pada periode 2011 sampai 2015. Namun, dalam kurun waktu tersebut dia cuma bermain dua kali dan dipinjamkan ke Everton dan Sevilla.

Di awal musim 2015/2016, Deulofeu akhirnya dijual ke Everton untuk kemudian dipinjamkan ke AC Milan pada awal Januari 2017. Bersama Rossoneri pemain 24 tahun itu main 18 kali dengan mencetak empat gol di seluruh kompetisi.

Berkat penampilan apiknya di Milan, Barca akhirnya membeli Deulofeu dari Everton pada awal musim ini. Namun, kariernya di klub Catalan itu lagi-lagi mentok. Deulofeu cuma main sebanyak 17 kali dan mencetak dua gol di seluruh ajang.

Deulofeu akhirnya dipinjamkan lagi Januari lalu, kali ini ke Watford. Sejauh ini Deulofeu baru main tiga kali dengan mencetak satu gol.

Deulofeu tak menyalahkan Barca lantaran melepasnya untuk dipinjamkan. Menurutnya, kegagalan terjadi karena dirinya tak bisa mengeluarkan performa terbaik.

“Saya lihat sih akan sangat sulit untuk kembali ke Barcelona. Sebagian besar kesalahan ada pada saya. Sebab pada akhirnya saya yang tidak menunjukkan kualitas sesungguhnya. Saya percaya pada diri sendiri lebih dari siapa pun, tapi saya akui bahwa saya tidak tampil seperti biasanya,” kata Deulofeu seperti dikutip dari Marca.

“Saya setuju untuk pergi karena saya tidak bermain selama satu setengah bulan dan itu tidak berhasil. Saya ingin bermain dan bahagia, Saya tidak suka berada di bangku cadangan seperti kebanyakan pemain, tetapi saya bilang ke pelatih ketika pergi dengan status pinjaman: ‘Semua ini kesalahan saya karena Anda sebenarnya telah memberiku kesempatan saya inginkan,

Terkait kelanjutan karirnya musim depan, Deulofeu belum mau memikirkannya dan fokus untuk memperbaiki performanya hingga akhir musim.

“Sejak saya tiba di Watford, saya sangat bahagia dan mereka telah memperlakukan saya dengan baik. Saya sangat menjaga diri dan saya berharap untuk segera kembali bermain pertandingan sebelum akhir musim,”

Italia Dapat Pengalaman Berharga dari Argentina

Italia Dapat Pengalaman Berharga dari Argentina

Italia harus mengakui ketangguhan Argentina usai kalah 0-2. Kekalahan itu dianggap sang pelatih Luigi Di Biagio sebagai pengalaman berharga di era baru Azzurri.

Italia memulai langkah awalnya setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2018 dengan menjajal kekuatan Argentina di Etihad Stadium, Sabtu (24/3/2018) dinihari WIB, dalam laga uji coba.

Dari daftar starting line-up, pelatih Interim Italia, Di Biagio, memainkan Federico Chiesa sebagai penyerang sayap kanan. Itu sekaligus menjadi debut Chiesa di timnas senior. Ada juga Patrick Cutrone yang memulai debutnya dengan masuk di babak kedua.

Laga ini sekaligus menjadi momen kembalinya kiper Gianluigi Buffon, setelah saat menyatakan pensiun dari timnas. Buffon main penuh untuk menjadi pemimpin skuat Azzurri di lapangan.

Italia sempat berhasil menahan imbang Argentina 0-0 di babak pertama. Namun, di paruh kedua mereka gagal meredam Albiceleste dan harus kebobolan dua gol lewat Ever Banega di menit ke-75 dan Manuel Lanzini di menit ke-85.

Dua gol tersebut tak mampu dibalas oleh Italia. Hingga laga usai skor 2-0 bertahan untuk keunggulan Argentina, dan Italia gagal memberi hasil positif setelah gagal tampil di Piala Dunia.

“Kami sedikit menderita, kami kehilangan bentuk. Kami mencoba melaju dan mendapatkannya, tetapi tidak belum cukup, Babak pertama sudah bagus, kami bisa menekan lebih banyak, tapi jangan lupa kami menghadapi semifinalis Piala Dunia dan ini adalah pertandingan berharga untuk mendapatkan pengalaman,” kata Di Bagio seperti dikutip dari Football Italia.

“Kami terlalu banyak bikin kesalahan, terutama di babak pertama, tetapi kami berusaha dan ada pekerjaan yang harus diselesaikan, yang sudah kami ketahui dan bukan pengembangan baru,” sambungnya.

“Tim ini mencakup banyak orang yang berada di debut mereka, yang lainnya mencatatkan caps ketiga atau keempat. Ini adalah awal dari sebuah era baru,”

Dybala dan Icardi Terancam Absen di Piala Dunia 2018

Dybala dan Icardi Terancam Absen di Piala Dunia 2018

Harapan Paulo Dybala dan Mauro Icardi untuk tampil di Piala Dunia 2018 terancam pupus. Pelatih Argentina Jorge Sampaoli mengindikasikan tak akan membawa mereka.

Padahal kedua striker itu tampil impresif di level klub. Bersama Juventus, Dybala telah mengemas 21 gol dan lima assist yang membantu timnya memimpin klasemen Serie A dan lolos ke perempatfinal Liga Champions.

Sementara Icardi tampil tajam untuk Inter Milan dengan menceploskan 22 gol di Serie A dalam 24 penampilan. Icardi menjadi salah satu alasan Nerazzurri masih dalam persaingan finis empat besar.

Akan tetapi, Dybala dan Icardi gagal merebut hati Sampaoli karena gagal bersinar di laga-laga penting. Dalam enam pertandingan di bawah Sampaoli, Dybala gagal mencetak gol dan hanya sekali membuat assist itupun saat melawan tim lemah Singapura. Sedangkan Icardi hanya tiga kali bermain dengan menyumbang satu assist.

Dybala dan Icardi dicoret Sampaoli dari skuat Argentina dalam melakoni persiapan akhir sebelum berlaga di Rusia pada musim panas nanti. Albiceleste dijadwalkan menghadapi Italia (23/3/2018) sebelum menantang Spanyol empat hari kemudian. Peluang Dybala dan Icardi pun tipis.

“Rumit bagi Dybala untuk terbiasa dengan sitem kami. Kami tidak mampu meningkatkan performa dia dan kami harus menilai apakah para pemain yang sekarang [di skuat ini] lebih baik daripada Paulo atau apakah kami harus terus bekerja dengan Paulo untuk meningkatkan performanya,” Sampaoli mengungkapkan di Soccer Way.

“Situasi Icardi mirip dengan Dybala. Transisi penampilan Icardi dari Inter ke Argentina bukanlah yang terbaik. Saya menganggapnya demikian dan merasa kami harus bekerja lebih baik, tapi kami tidak memiliki cukup waktu. Mungkin adaptasi dia butuh waktu yang lama.”

“Saya tidak menyingkirkan dia, tapi sebagai pelatih Argentina saya harus fokus pada penampilan di atas lapangan,” Sampoli menegaskan.

Buffon Balas Kritik tentang Pemanggilannya ke Timnas Italia

Buffon Balas Kritik tentang Pemanggilannya ke Timnas Italia

Keputusan pelatih Luigi de Biagio untuk memanggil kembali Gianluigi Buffon ke timnas Italia menuai perdebatan. Buffon pun menanggapi kritik tersebut.

Kiper berusia 40 tahun itu menunda pensiun dengan menerima panggilan untuk memperkuat Italia saat melawan Argentina dan Inggris. Dia akan menjadi mentor dua kiper muda Gianluigi Donnarumma dan Mattia Perin, serta para pemain Gli Azzurri lainnya.

Namun, tidak semua kalangan menerima pemanggilan Buffon, seperti manan bek Italia Claudio Gentile. Menurut dia, seharusnya Di Biagio lebih fokus pada para pemain muda, mengingat Italia sedang membangun kembali tim setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2018.

Akan tetapi di sisi lain Buffon masih punya kemampuan yang oke dalam mengawal gawang. Buffon sarat pengalaman di level klub dan internasional serta masih mempertahankan statusnya sebagai kiper nomor satu di Juventus, klub terkuat di Italia.

“Kami ini adalah sebuah negara yang aneh, aku sudah tahu itu,” kata Buffon di Reuters. “Aku adalah kiper Juventus, yang sudah jelas bukan tim kacangan. Untuk menciptakan sebuah kontroversi setelah selama ini membela Italia, dengan berbagai sukses selama 25 tahun, bagiku cukup sensasional.”

“Ini bukan untuk pertunjukan, karena itu tidak akan membuatku tertarik tapi karena aku masih bisa berkontribusi. Aku berada di sini dengan antusiasme yang besar.”

Pada awalnya, Buffon diyakini akan pensiun di akhir musim 2017/18. Namun, si pemain kini tidak yakin kapan akan gantung sepatu.

“Aku tidak tahu apakah pertandingan terakhirku akan bersama Juventus atau Italia. [Momen] itu pasti akan menjadi malam yang tenang dan sederhana,” sambung pesepakbola yang sudah tampil di lebih dari 1.000 pertandingan itu.

Senyum Lebar Pogba di Timnas Prancis

Senyum Lebar Pogba di Timnas Prancis

Paul Pogba saat ini tidak dalam kondisi ideal di Manchester United. Meskipun demikian, hal itu tak melunturkan senyum Pogba saat dirinya bergabung dengan timnas Prancis.

Pogba melewati serangkaian momen yang membuatnya tak bisa maksimal di lapangan. Mulai dari sakit, cedera, hingga performa buruk membuat Pogba hanya tampil empat kali sebagai starter dari 11 laga terakhir MU di semua kompetisi.

Kondisi itu kemudian diiringi munculnya rumor keretakan hubungan Pogba dan manajer Jose Mourinho. Rumor ini makin panas setelah Mourinho lebih memilih pemain muda Scott McTominay daripada Pogba dalam sejumlah pertandingan.

Terlepas dari situasinya di MU, Pogba tetap masuk timnas Prancis untuk laga persahabatan melawan Kolombia dan Rusia pada bulan ini. Gelandang berusia 25 tahun itu juga tetap ceria ketika bertemu rekan-rekannya di timnas.

“Dia kembali ke skuat Prancis dengan senyuman lebar di wajahnya. Dia bahagia. Tak mudah melakukan itu ketika Anda tak banyak bermain di klub atau merasa tidak dalam kondisi terbaik. Itu pernah terjadi pada saya dan dia tahu itu,” ungkap penyerang Prancis, Antoine Griezmann,

“Dia masih bisa bersenang-senang dan bekerja keras, sesuatu yang paling penting untuk sekarang ini. Semua tergantung Pogba untuk membuktikan dan memperlihatkan dia masih bisa menjadi pemain yang diketahui banyak orang,” tutur Griezmann.

“Pelatih memercayainya, begitu juga skuat. Kami membutuhkan Pogba yang tersenyum dan efisien di lapangan,

Apakah Rossi Akan Tetap Kompetitif Sampai 2020? Ini Jawaban Yamaha

Apakah Rossi Akan Tetap Kompetitif Sampai 2020? Ini Jawaban Yamaha

Yamaha telah memperpanjang kontrak Valentino Rossi. Di usia yang semakin tua, apakah Rossi akan mampu terus kompetitif? Yamaha mengakui itu adalah perjudian.

Setelah masa depannya beberapa lama dispekulasikan, Rossi akhirnya menambah kontraknya dengan Yamaha sampai 2020. Itu artinya, rider legendaris Italia ini akan terus membalap sampai usianya mencapai 41 tahun.

“Kami berdua memiliki tujuan yang sama. Dia yakin dia masih kompetitif dan kami ingin seorang pebalap yang kompetitif,” kata direktur umum Yamaha Lin Jarvis, mengenai kontrak baru Rossi.

“Kalau dia menginginkan setahun kontrak, kami akan berkata ‘ya’, juga kalau dua. [Tapi] kalau dia bilang ingin lima, kami mungkin harus berpikir dia kali,” lanjut dia sembari tertawa.

Rossi belum berhasil menambah koleksi gelarnya sejak terakhir merebut gelar juara dunia pada 2009. Namun demikian, pebalap berusia 39 tahun itu masih mampu bersaing dengan menjadi runner-up di antara 2014-2016 kendati pada musim lalu finis kelima, posisi terburuknya di atas motor Yamaha.

“Semuanya adalah perjudian. Kehidupan juga sebuah perjudian. Anda membuat keputusan berdasarkan apa yang Anda rasakan dan sadar betul bahwa apapun bisa berubah dari hari ke harinya,” ucap Jarvis kepada GPOne.

“Kami sangat senang Valentino akan bersama kami untuk dua tahun lagi. Di akhir 2020, kami akan bersama selama 15 tahun, yang menjadi sesuatu yang unik di dalam olahraga ini.”

Kontrak baru dari Yamaha dibalas Rossi dengan podium di balapan perdana musim ini di Qatar. Start dari urutan kedelapan, Rossi melesat untuk finis ketiga di belakang Andrea Dovizioso dan Marc Marquez.