Harapan Mkhitaryan kepada Emery di Arsenal

Harapan Mkhitaryan kepada Emery di Arsenal

Henrikh Mkhitaryan mengungkapkan harapannya terhadap manajer baru Arsenal, Unai Emery. Mkhitaryan juga berharap Emery akan sukses bersama The Gunners.

Arsenal mengumumkan pengangkatan Emery sebagai suksesor Arsene Wenger, Rabu (23/5/2018). Pria asal Spanyol itu akan mulai bekerja pada musim 2018/2019 dengan durasi kontrak yang tak disebutkan.

Dalam konferensi pers pertamanya sebagai manajer Arsenal, Emery menyatakan tekadnya untuk mengantarkan Meriam London kembali ke Liga Champions. Arsenal memang absen dari Liga Champions dalam dua musim berturut-turut lantaran gagal finis empat besar di Premier League.

Mkhitaryan, yang bergabung dengan Arsenal dari Manchester United pada Januari lalu, antusias menyambut kehadiran Emery.

“Saya belum punya kesempatan untuk bertemu dengannya. Kami belum ada waktu untuk berbicara satu sama lain. Saya berharap dia akan membawa ide taktik yang baru dan semangat baru kepada Arsenal, dan saya berharap dia akan sukses,” ungkap Mkhitaryan seperti dikutip Daily Mail.

“Saya belum berbicara dengan rekan-rekan setim tentang dia. Saya ingin bertemu dengannya. Semua orang di klub adalah seorang profesional. Semua orang tahu apa yang harus dia lakukan,” tambahnya.

Mkhitaryan sepakat dengan Emery bahwa kembali ke Liga Champions harus menjadi prioritas Arsenal.

“Prioritas kami musim lalu adalah lolos Liga Champions, tapi sayangnya kami gagal mencapainya. Kami ingin melakukannya dan kami sudah berjuang, tapi apapun bisa terjadi dalam sepakbola. Sekarang kami harus fokus ke musim depan dan kembali ke Liga Champions dalam dua tahun,” ungkap pemain Armenia itu.

Baca juga: PR yang Menanti Emery di Arsenal

Terlepas dari pengangkatan Emery, Mkhitaryan juga mengaku sedih akan kepergian Wenger. Ia tahu tak akan mudah bagi para pemain dan staf untuk memulai musim tanpa manajer yang sudah memimpin tim selama 22 tahun terakhir.

“Bukan hanya para pemain, tapi para staf juga sedih. Tidak mudah menghadapi kepergian seseorang yang menangani tim selama 22 tahun. Anda tak bisa membayangkan bagaimana semua orang terkagum akan atmosfer yang diciptakan Wenger. Jika dia memutuskan bertahan 10 tahun lagi, tak akan ada satu orang pun yang menentangnya,” kata dia.

Tim Thomas Indonesia Jumpa Malaysia, Ini Komentar Susy Susanti

Tim Thomas Indonesia Jumpa Malaysia, Ini Komentar Susy Susanti

Tim Thomas Indonesia akan berhadapan dengan Malaysia di babak perempatfinal. Manajer tim Piala Thomas dan Uber Indonesia, Susy Susanti, mengomentari pertemuan ini.

Duel Indonesia vs Malaysia di perempatfinal Piala Thomas 2018 akan dilangsungkan di Impact Arena, Bangkok, Thailand, pada Kamis (24/5/2018) mulai pukul 19.00 WIB. Indonesia lolos sebagai juara Grup B, sementara Malaysia adalah runner-up Grup D.

Di babak penyisihan grup, Indonesia mengalahkan Kanada, Thailand, dan Korea Selatan. Sementara itu, Malaysia menang atas Rusia dan Aljazair, tapi kalah dari Denmark.

“Ketemu Malaysia, salah satu musuh bebuyutan. Saya melihatnya, lawan-lawan mestinya takut kok lawan kita. Kenapa kita mesti takut? Sebelum pertandingan dimulai semua punya peluang dan kita sendiri ada peluang,” ujar Susy seusai pengundian.

“Paling nggak kita lebih konsisten saja, lebih siap saja bagi atlet-atlet kita karena mungkin situasi lapangan yang agak sedikit berpengaruh tapi dengan adaptasi beberapa kali semua akan sudah siap,” tambahnya.

Di atas kertas, Malaysia akan bertumpu pada Lee Chong Wei di nomor tunggal dan Goh V Shem/Tan Wee Kiong di nomor ganda.

“Mereka punya satu kartu as, Lee Chong Wei. Tapi, selain itu mungkin peluangnya, di atas kertas dari ganda, kita sedikit di atas tapi tetap waspada. Untuk single kedua-ketiga kita rame-rame tapi waktu di SEA Games kita bisa mengatasi. Paling tidak jadi suatu modal. Pada saat itu justru mereka di depan publik sendiri. Sebetulnya itu keuntungan dan justru kita tahu ya ada ‘bala bantuan’ tapi kita bisa mengatasi. Jadi ketika di sini, semoga anak-anak lebih yakin, lebih percaya diri,” kata Susy.

Memang Sudah Saatnya Buffon Tinggalkan Juventus

Memang Sudah Saatnya Buffon Tinggalkan Juventus

Gianluigi Buffon tak menyesali keputusannya meninggalkan Juventus. Buffon menilai ini merupakan saat yang tepat untuk pergi.

Buffon telah memainkan pertandingan terakhirnya bersama Juve pada akhir pekan lalu. Mulai musim depan, kiper berusia 40 tahun itu tak lagi berseragam Bianconeri.

Keputusan Buffon untuk pergi dari Juve mengakhiri kerja sama di antara keduanya yang sudah terjalin selama 17 tahun. Bersama Si Nyonya Tua, Buffon memenangi sembilan scudetto dan empat gelar Coppa Italia.

“Saya senang karena saya menghabiskan hari-hari terbaik dalam hidup saya di Juventus. Saya benar-benar selaras dengan cara klub beroperasi, jadi saya hanya bisa berterima kasih kepada Presiden (Andrea Agnelli), tapi, sayangnya, tahun berganti,” ucap Buffon seperti dilansir Football Italia.

“Ini adalah akhir dari sebuah era, ada kiper-kiper yang lebih muda dan lebih kuat daripada saya.”

“Anda harus pergi di momen yang pas dan ini adalah saat yang tepat,” kata Buffon menegaskan.

Menyusul kepergian Buffon, Juve dikabarkan mengincar kiper Genoa, Mattia Perin. Perin juga membuka peluang untuk pindah dari Genoa.

Sementara itu, Buffon belum memutuskan ke mana dirinya akan melanjutkan karier. Tapi isu yang bergulir belakangan ini menyebut Buffon menuju Paris Saint-Germain.

Cedera Lutut, Sergio Romero Batal Perkuat Argentina di Piala Dunia

Cedera Lutut, Sergio Romero Batal Perkuat Argentina di Piala Dunia

Timnas Argentina mendapat kabar buruk jelang bergulirnya Piala Dunia 2018. Kiper Sergio Romero mengalami cedera lutut dan dipastikan tak bisa tampil di Rusia.

Romero merupakan salah satu dari tiga kiper yang disiapkan Jorge Sampaoli untuk menghadapi Piala Dunia 2018. Nama kiper Manchester United itu masuk di daftar skuat yang diumumkan Senin (21/5/2018) kemarin.

Tapi Romero mengalami cedera pada lututnya. La Albiceleste langsung mengumumkan bahwa kiper 31 tahun itu dicoret dari skuat.

“Sergio Romero mengalami penyumbatan sendi ri lutut kanan yang akan membuatnya dicoret dari skuat,” demikian bunyi pernyataan Argentina di akun Twitter-nya.

Untuk menggantikan Romero, Argentina memanggil kiper Tigres UANL, Nauel Guzman. Dia akan bergabung dengan Willy Caballero dan Franco Armani.

Di Piala Dunia 2018, Argentina tergabung di Grup D bersama Islandia, Kroasia, dan Nigeria. Lionel Messi dkk. akan mengawali kiprahnya dengan menghadapi Islandia pada 16 Juni.

Sanchez Akui Kesulitan Beradaptasi dengan Gaya Main Manchester United

Sanchez Akui Kesulitan Beradaptasi dengan Gaya Main Manchester United

Alexis Sanchez belum menunjukkan penampilan impresif di Manchester United. Salah satunya karena Sanchez masih kesulitan beradaptasi dengan gaya main MU.

Sanchez didatangkan MU pada Januari lalu dari Arsenal dalam kesepakatan barter dengan Henrikh Mkhitaryan. Meski didapatkan tanpa biaya, Sanchez pada akhirnya tetap menguras anggaran gaji bulanan MU dengan bayaran diyakini sekitar 450 ribu poundsterling per pekan.

Namun MU sejauh ini masih belum benar-benar menikmati dana besar yang mereka keluarkan untuk Sanchez. Penyerang internasional Chile itu tampil 18 kali di semua ajang selama separuh musim bersama MU, dengan catatan tiga gol dan tiga assist.

Catatan itu tentu tak bisa dibilang cukup mengesankan. Performanya bahkan dikritik keras oleh pemain legendaris MU Paul Scholes, yang menyebutnya belum berhasil jadi sosok pembeda yang diharapkan klub.

Sanchez tak menampik bahwa dirinya kesulitan, khususnya dalam hal menyesuaikan diri dengan gaya main MU.

“Saya pikir pada tiap laga yang saya mainkan, saya mungkin merasakan kesulitan untuk beradaptasi dengan gaya main tim dan saya sedang dalam proses mengenal rekan-rekan saya. Saya percaya kami harus berkembang di berbagai aspek,” ungkapnya dilansir Mirror.

“Kami harus tampil fokus dan konsentrasi pada laga-laga besar dan melakukan yang sama di partai-partai yang lebih kecil. Itulah yang dilakukan tim besar dan saya pikir MU adalah tim seperti itu. Sehingga itu yang harus kami lakukan.”

“MU adalah klub besar yang selalu bercita-cita memenangi trofi-trofi besar dan itu yang sedang coba saya lakukan. Saya ingin mencoba, terus berkembang, dan melihat tim ini memenangi trofi. Saya percaya MU adalah tim yang sangat besar dalam skala dunia dan terlebih lagi di Inggris, di mana kami yang terbesar,” tutur pemain Chile tersebut.

Soal gaya main MU ini sebelumnya juga jadi isu untuk Mkhitaryan, yang jadi alat tukar MU untuk mendatangkan Sanchez. Gelandang Arsenal tersebut mengaku kurang nyaman bermain di MU yang cenderung defensif sehingga tak bisa mengeluarkan permainan optimal.

Seperti Rossi dan Lorenzo, Marquez Bakal Jajal Mobil F1

c

Marc Marquez diklaim bakal mengikuti jejak Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo untuk menjajal mobil balap . Tim Formula 1 Red Bull yang memberinya kesempatan.

Dikutip dari Autosport, Red Bull dilaporkan siap memberi Marquez kesempatan menjajal mobil balapnya. Red Bull bakal mengajak Marquez dalam tes di Red Bull Ring, Austria, pada awal bulan depan.

Belum diketahui Marquez bakal menggunakan mobil seri mana. Tapi diprediksi juara dunia MotoGP empat kali itu akan menggunakan mobil Red Bull dengan mesin V8.

Red Bull akan menggelar tes di Red Bull Ring, Austria, 5-6 Juni mendatang. Selain Marquez, rekan setimnya di Repsol Honda Dani Pedrosa serta juara dunia motocross sembilan kali Tony Cairoli kabarnya juga akan ikut serta.

Sebelum turun ke lintasan, ketiga pebalap itu dikabarkan bakal bertolak ke Milton Keynes, Inggris, untuk menyambangi markas Red Bull. Marquez, Pedrosa, dan Cairolli akan terlebih dulu menyetel posisi tempat duduk dan mencoba simulator.

Sebelum Marquez, Rossi dan Lorenzo sudah lebih dulu mobil F1. Rossi bahkan sempat bimbang untuk beralih karier ke balap mobil pada 2006, usai menjajal Ferrari, sebelum akhirnya memutuskan bertahan di MotoGP.

Sementara Lorenzo pada 2016 juga sempat menjajal mobil balap Mercedes. Pebalap Spanyol itu berkesempatan mencicipi mobil yang dipakai Lewis Hamilton saat menjadi juara dunia F1 2014.

Emosionalnya Iniesta Saat Pamit dari Barcelona

Emosionalnya Iniesta Saat Pamit dari Barcelona

Andres Iniesta tak kuasa menahan air mata pada laga terakhir Barcelona. Lewat pidato singkat nan emosional, Iniesta pamit dari Barcelona.

Iniesta tampil dalam balutan seragam Barcelona untuk kali terakhir saat melawan Real Sociedad di Camp Nou, Senin (21/5/2018) dinihari WIB. Gelandang 34 tahun itu turun sebagai starter dan mengemban ban kapten, memimpin tim menang 1-0.

Sebagaimana diperkirakan, Camp Nou penuh dengan fans Barcelona yang ingin memberikan tribut untuk Iniesta. Terdapat koreo bertuliskan ‘Infinit Iniesta’, plus nyanyian-nyanyian untuk sang legenda.

Setelah laga berakhir, lampu stadion dimatikan dan fans menyorotkan lampu dari telepon genggam masing-masing, membuat suasana haru terbangun. Iniesta pun mendapatkan waktu untuk mengucapkan kata-kata perpisahan dengan klub yang membesarkannya tersebut.

Air mata Iniesta mengalir deras.

“Hari ini adalah hari yang sangat sulit, tapi ini sudah menjadi 22 tahun yang luar biasa bagi saya. Merupakan sebuah kebanggaan dan kepuasan tersendiri bisa membela dan mewakili lambang ini, yang bagi saya merupakan yang terbaik di dunia,” ungkapnya seperti dilansir Mirror.

“Terima kasih untuk semua rekan, masing-masing dari kalian. Saya akan rindu sekali dengan kalian. Dan terima kasih untuk fans atas seluruh cinta yang diberikan, atas segala sesuatu yang bisa saya rasakan sejak saya tiba sebagai bocah di sini, dan saya pergi sebagai seorang pria.”

“Kalian semua akan selalu ada di hati saya selamanya. Sebagai penutup, pekan ini sudah membuat saya tak bisa berkata-kata. Visca Barca, Visca Catalunya, dan Visca Fuentealbilla (kampung halamannya),

Rossi Masih Menantikan Reaksi Para Teknisi Yamaha

Rossi Masih Menantikan Reaksi Para Teknisi Yamaha

Sudah 15 balapan MotoGP dilalui Movistar Yamaha tanpa kemenangan. Valentino Rossi menyebut ini sudah diperkirakan dan masih menanti reaksi para teknisi di Jepang.

Tim Movistar Yamaha kembali gagal menempatkan salah satu pebalapnya di podium teratas pada MotoGP Prancis, Minggu (20/5/2018) kemarin. Hasil terbaik dipetik Rossi yang finis ketiga, sementara Maverick Vinales mengakhiri balapan di urutan tujuh.

Hasil ini menandai berlanjutnya puasa kemenangan tim pabrikan Yamaha tersebut. Kali terakhir mereka juara adalah pada seri Belanda tahun lalu, alias 15 seri yang sudah berlalu.

Yamaha sejauh ini diakui Rossi kalah kompetitif dari para rival dari Honda dan Ducati. Problem mereka masihlah seputar perangkat ECU yang belum mampu memberikan akselerasi dan daya cengkeram optimal di sejumlah sirkuit, terutama di trek bertemperatur tinggi.

“Itu bukan sebuah kebetulan. Saya sudah mengatakan soal ini di Februari dan saya biasanya memilih tak bicara, karena pada akhirnya saya benar soal itu,”

Sampai saat ini Rossi mengaku masih menunggu sesuatu dari para insinyur Yamaha di Jepang. Satu hal yang diakuinya, para teknisi ini seringkali cukup lambat dalam bereaksi terhadap sebuah problem.

“Saya punya banyak pengalaman dengan orang-orang Jepang, jadi saya bisa bilang….saya tak tahu (soal permintaan teknis yang belum dipenuhi),” ujar Rossi sambil tertawa.

“Saya banyak berbicara dengan mereka. Mereka mendengarkan saya dan menulis semua yang saya katakan, lalu mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Terlepas dari guyonannya, saya suka bekerja dengan para teknisi Yamaha. Tapi sekarang kami perlu bergerak dengan cepat dan biasanya mereka tak terlalu reaktif,” imbuh pemilik sembilan gelar juara dunia ini.

Conte: Saya Seorang Juara Berantai

Conte: Saya Seorang Juara Berantai

Antonio Conte menegaskan komitmennya kepada Chelsea. Conte juga mengingatkan Chelsea bahwa dirinya adalah seorang juara berantai.

Chelsea keluar sebagai juara Piala FA 2017/2018 setelah mengalahkan Manchester United 1-0 di Wembley pada Sabtu (19/5/2018) malam. Gol tunggal The Blues dicetak lewat penalti Eden Hazard di babak pertama.

Itu merupakan gelar kedua Conte bersama Chelsea selama dua musim menjadi manajer. Di musim pertama, Conte mengantarkan Chelsea menjuarai Premier League.

“Ketika Anda terbiasa juara setiap musim, musim seperti ini dapat menciptakan beberapa masalah dalam diri Anda. Tapi saya juga berpikir di musim yang sulit seperti ini, saya membuktikan bahwa saya seorang juara berantai. Juara dengan cara seperti di musim ini memberi saya kepuasan lebih daripada kemenangan saya di masa lalu,” kata Conte seperti dikutip dari The Guardian.

Masa depan Conte di Stamford Bridge dispekulasikan menyusul kegagalan Chelsea finis di zona Liga Champions. Chelsea disebut-sebut akan mencari manajer baru.

Namun Conte menegaskan bahwa dirinya masih terikat kontrak dengan Chelsea. Conte juga ‘mengingatkan’ Chelsea akan kemampuannya memberi gelar juara meski melewati musim yang sulit.

“Setelah dua tahun, klub sangat mengenal saya. Jika mereka ingin terus bekerja dengan saya, mereka mengenal saya. Saya tidak bisa berubah. Saya seperti ini dan masa lalu saya mengatakannya dengan sangat jelas, sebagai pemain dan sebagai seorang manajer,” sambungnya.

“Saya seorang juara berantai. Saya membuktikannya di Inggris di saat yang sulit bagi klub setelah finis di posisi ke-10 (pada 2015/2016). Dalam dua musim, saya membawa dua piala untuk klub ini.”

“Saya masih ada kontrak dan saya berkomitmen kepada klub ini. Seperti yang Anda ketahui, pekerjaan kami tidak sederhana. Saya memahami bahwa klub dapat membuat keputusan, keputusan positif, atau keputusan negatif. Saya orang pertama yang akan mengerti,” tegasnya.

Bukan Hasil Kualifikasi MotoGP Prancis yang Diharapkan Valentino Rossi

Bukan Hasil Kualifikasi MotoGP Prancis yang Diharapkan Valentino Rossi

Valentino Rossi sempat mencatatkan hasil memuaskan di sesi latihan MotoGP Prancis. Karenanya, posisi start sembilan yang dia dapat sedikit mengecewakan.

Pada sesi latihan MotoGP Prancis Jumat dan Sabtu, Rossi mampu berada di posisi tiga. Tapi Rossi, sebagaimana rekan setimnya Maverick Vinales, melorot saat menjalani kualifikasi.

Rossi hanya bisa menempati posisi sembilan. Sementara Vinales berada satu titik di depannya.

“Pastinya saya berharap sedikit lebih baik di kualifikasi karena kemarin dan juga pagi ini saya cukup tangguh,” ucap Rossi usai kualifikasi MotoGP Prancis.

“Kami sudah mencoba berbagai hal. Sayangnya saya melakukan kesalahan di latihan keempat dan crash, tapi bagaimanapun kecepatan saya tak terlalu buruk. Tak ada yang spesial, tapi tidak terlalu buruk juga,” lanjut dia.

Memulai balapan dari baris ketiga diakui Rossi akan sulit. Dan untuk kali kesekian di MotoGP musim ini, duo Yamaha harus mengakui keunggulan performa tim satelit yang justru mengantar Johann Zarco meraih pole position.

“Masalahnya, kami punya empat, lima, enam pebalap dengan kecepatan yang sangat mirip, jadi itu akan sulit (di balapan). Memulai dari barisan ketiga selalu sulit, jadi penting saat start dan lap pertama.”.

“Zarco cepat hari ini, juga di balapan-balapan lain. Dia berkendara dengan sangat baik dan juga sangat cepat di balapan. Kami tidak tahu pasti kenapa, tapi kami tahu dia lebih cepat dari kami,” sambung dia dikutip dari Crash.